Pendidikan dan Anak dalam Angka Dunia
Slideshow ini menampilkan lima indikator pendidikan dari World Bank World Development Indicators, satu bingkai untuk tiap indikator. Setiap bingkai memuat grafik batang peringkat, nilai dan peringkat Indonesia sebagai negara yang disorot, serta garis tren dari rangkaian data yang sama. Semua angka diambil langsung dari data yang mendasari artikel ini.
| Government spending on education | 196 | Belanja pendidikan Indonesia 1,2752% dari PDB, peringkat 196 dari 203 negara |
| Children out of primary school | 46 | Anak usia SD yang tidak bersekolah di Indonesia 0,8768%, peringkat 46 dari 205 negara |
| Tertiary enrolment | 93 | Partisipasi pendidikan tinggi Indonesia 44,8813%, peringkat 93 dari 203 negara |
| Secondary school enrolment | 76 | Partisipasi sekolah menengah Indonesia 97,1702%, peringkat 76 dari 208 negara |
| Pupils per teacher (primary) | 89 | Rasio murid per guru SD di Indonesia 17,0349, peringkat 89 dari 206 negara |
Bacalah tiap bingkai secara terpisah: satuan dan jumlah negara pembanding berbeda-beda, misalnya 203 negara untuk belanja pendidikan dan 208 negara untuk partisipasi sekolah menengah. Nilai persen dan rasio murid per guru tidak boleh dibandingkan antarbingkai.
Poin Utama
Dalam tema pendidikan dan anak, Indonesia menunjukkan gambaran yang terbelah: capaian partisipasi sekolah tergolong baik, tetapi angka belanja pendidikan yang tercatat sangat rendah dibanding negara lain. Belanja pemerintah untuk pendidikan tercatat 1,2752% dari PDB, menempatkan Indonesia pada peringkat 196 dari 203 negara, jauh di bawah nilai dunia 3,5693%. Sebaliknya, angka partisipasi sekolah menengah mencapai 97,1702% (peringkat 76 dari 208 negara), jauh di atas nilai dunia 77,2786%, dan proporsi anak usia sekolah dasar yang tidak bersekolah turun ke 0,8768% (peringkat 46 dari 205 negara). Angka partisipasi pendidikan tinggi 44,8813% juga sedikit di atas nilai dunia 43,6151%, meski masih jauh dari negara-negara maju di kawasan.
*Sumber: World Bank, World Development Indicators (SE.XPD.TOTL.GD.ZS, SE.PRM.UNER.ZS, SE.SEC.ENRR, SE.TER.ENRR).*
Nilai Terbaru Indikator Utama
Indikator pertama dalam tema ini adalah belanja pemerintah untuk pendidikan sebagai persentase PDB. Nilai terbaru Indonesia adalah 1,2752%, berada di peringkat 196 dari 203 negara yang datanya tersedia. Nilai dunia untuk indikator yang sama adalah 3,5693%, sehingga Indonesia berada sekitar 2,29 poin persen di bawahnya. Perlu dicatat bahwa indikator ini hanya menghitung pengeluaran pemerintah, dan angka terbaru dalam rangkaian data Indonesia berasal dari tahun 2023.
*Sumber: World Bank, Government expenditure on education, total (% of GDP) — https://data.worldbank.org/indicator/SE.XPD.TOTL.GD.ZS*
Wajah Peringkat Teratas dan Terbawah
Pada belanja pendidikan terhadap PDB, peringkat teratas diisi Kiribati 16,3905%, Samoa Amerika 14,717%, Tuvalu 12,8457%, dan Mikronesia 11,5591% — umumnya negara kepulauan kecil dengan ukuran ekonomi yang tidak besar, lalu disusul Namibia 9,0844% dan Aljazair 8,9777%. Di ujung bawah terdapat Somalia 0,0%, Nigeria 0,3191%, Zimbabwe 0,3848%, dan Papua Nugini 0,7821%. Indonesia 1,2752% berada di kelompok bawah ini, tepat di atas Laos 1,2338% dan Lebanon 1,2249%, serta di bawah Sudan Selatan 1,5654%. Gambarannya berbeda pada indikator partisipasi: untuk anak usia SD yang tidak bersekolah, kelompok teratas diisi Uni Emirat Arab 0,0039%, Azerbaijan 0,0266%, Uruguay 0,0355%, Korea Selatan 0,0557%, dan Jepang 0,0684%, sedangkan yang terbawah adalah Somalia 85,2728% dan Afganistan 68,7716%; Indonesia 0,8768% berada di paruh atas daftar tersebut.
*Sumber: World Bank, World Development Indicators (SE.XPD.TOTL.GD.ZS, SE.PRM.UNER.ZS).*
Perubahan dalam Satu Dekade
Rangkaian belanja pendidikan Indonesia bergerak dari 3,4075% pada 2012 dan 3,5836% pada 2015, lalu tercatat 1,2102% pada 2016 dan bertahan di kisaran 0,86–1,03% hingga 2022 (0,8639%), sebelum naik ke 1,2752% pada 2023. Proporsi anak usia sekolah dasar yang tidak bersekolah tercatat 1,8216% pada 2013, sempat naik ke 7,7001% pada 2018, kemudian turun ke 0,7271% pada 2023 dan 0,8768% pada 2025. Partisipasi pendidikan tinggi naik cukup konsisten dari 29,0425% pada 2012 menjadi 44,8813% pada 2023, bertambah sekitar 15,84 poin. Partisipasi sekolah menengah naik dari 83,556% pada 2014 menjadi 97,1702% pada 2025, dengan angka tertinggi 98,8364% pada 2024. Rasio murid per guru SD bergerak dari 19,0117 pada 2010 ke 17,0349 pada 2018, namun rangkaian datanya berhenti di 2018 sehingga tidak menggambarkan tahun-tahun terbaru.
*Sumber: World Bank, World Development Indicators (SE.XPD.TOTL.GD.ZS, SE.PRM.UNER.ZS, SE.TER.ENRR, SE.SEC.ENRR, SE.PRM.ENRL.TC.ZS).*
Perbandingan dengan Negara Terdekat
Pada belanja pendidikan terhadap PDB, Indonesia 1,2752% berada di bawah Tiongkok 3,8971%, Jepang 3,3366%, Korea Selatan 5,4091%, dan Inggris 5,9068% — selisih dengan Inggris sekitar 4,63 poin — sementara tetangga Laos tercatat 1,2338% dan Papua Nugini 0,7821%. Pada partisipasi sekolah menengah, Indonesia 97,1702% berada di atas Tiongkok 92,2603% (selisih sekitar 4,91 poin) dan Korea Selatan 96,254%, hampir setara Amerika Serikat 97,4735%, namun di bawah Jepang 101,5371% dan Inggris 112,12%. Pada partisipasi pendidikan tinggi, Indonesia 44,8813% tertinggal dari Singapura 97,2887%, Korea Selatan 111,8533%, Tiongkok 76,8758%, dan Jepang 64,4908% (selisih sekitar 19,6 poin). Untuk anak usia SD yang tidak bersekolah, Indonesia 0,8768% lebih rendah daripada Tiongkok 6,6763% dan Amerika Serikat 3,9822%, tetapi lebih tinggi daripada India 0,1188%, Australia 0,1243%, dan Korea Selatan 0,0557%. Rasio murid per guru SD Indonesia 17,0349 lebih ringan dari nilai dunia 23,4463 dan Prancis 18,1766, tetapi lebih padat dari Korea Selatan 16,2867, Tiongkok 16,4267, dan Brunei 9,8952.
*Sumber: World Bank, World Development Indicators (SE.XPD.TOTL.GD.ZS, SE.SEC.ENRR, SE.TER.ENRR, SE.PRM.UNER.ZS, SE.PRM.ENRL.TC.ZS).*
Cara Membaca Angka Ini
Belanja pendidikan di sini hanya mencakup pengeluaran pemerintah, tidak termasuk biaya yang ditanggung rumah tangga seperti uang sekolah atau les di luar sekolah, sehingga rasio yang rendah tidak dapat langsung diartikan sebagai jumlah total sumber daya pendidikan yang kecil ataupun sebagai penilaian atas mutu pendidikan; sebaliknya, rasio tinggi seperti Kiribati 16,3905% banyak muncul pada negara dengan ukuran ekonomi kecil. Angka partisipasi sekolah adalah angka partisipasi kasar (% gross) yang menyertakan siswa di luar rentang usia baku dan siswa mengulang, sehingga dapat melampaui 100% seperti Yunani 165,1134% atau Monako 158,5466% — bukan berarti seluruh anak bersekolah. Untuk indikator anak usia SD yang tidak bersekolah tidak tersedia nilai dunia dalam data ini, jadi perbandingan terhadap rata-rata dunia tidak dapat dibuat, dan peringkatnya hanya relatif terhadap negara yang melaporkan. Tahun data terbaru berbeda antarindikator, dan rangkaian rasio murid per guru berhenti pada 2018, sehingga perbandingan lintas indikator sebaiknya tidak diperlakukan sebagai potret satu tahun yang sama. Pemutakhiran dilakukan tahunan melalui World Bank WDI dan nilai lama pun dapat direvisi mengikuti laporan tiap negara, sehingga pergeseran peringkat yang kecil sebaiknya tidak dinilai secara pasti.
*Sumber: World Bank, World Development Indicators (SE.XPD.TOTL.GD.ZS, SE.PRM.UNER.ZS, SE.SEC.ENRR, SE.TER.ENRR, SE.PRM.ENRL.TC.ZS) — https://data.worldbank.org/indicator/SE.XPD.TOTL.GD.ZS*
Belanja pendidikan (% PDB) dalam peta dan grafik
| Peringkat | Negara / wilayah | % |
|---|---|---|
| 1 | Kiribati | 16.39 |
| 2 | Samoa Amerika | 14.72 |
| 3 | Tuvalu | 12.85 |
| 4 | Mikronesia | 11.56 |
| 5 | Namibia | 9.08 |
| 194 | Kepulauan Cayman | 1.57 |
| 195 | Sudan Selatan | 1.57 |
| 196 | Indonesia | 1.28 |
| 197 | Laos | 1.23 |
| 198 | Lebanon | 1.22 |
| 201 | Zimbabwe | 0.38 |
| 202 | Nigeria | 0.32 |
| 203 | Somalia | 0 |
Tabel peringkat dipuncaki Kiribati 16,3905% dan Samoa Amerika 14,717%, sementara ujung bawah diisi Somalia 0,0% dan Nigeria 0,3191%. Indonesia berada di kelompok bawah, di antara Laos 1,2338% dan Sudan Selatan 1,5654%.
Batang menunjukkan jarak yang lebar antara puncak dan dasar daftar, dari 16,3905% hingga 0,0%. Garis tren Indonesia bergerak dari 3,5836% pada 2015 ke kisaran satu persen sejak 2016, lalu 1,2752% pada 2023.
Bandingkan negara
Anak usia SD yang tidak bersekolah
| Peringkat | Negara / wilayah | % |
|---|---|---|
| 1 | Uni Emirat Arab | 0 |
| 2 | Azerbaijan | 0.03 |
| 3 | Uruguay | 0.04 |
| 4 | Korea Selatan | 0.06 |
| 5 | Jepang | 0.07 |
| 44 | Saint Kitts dan Nevis | 0.86 |
| 45 | Namibia | 0.87 |
| 46 | Indonesia | 0.88 |
| 47 | Sierra Leone | 0.89 |
| 48 | Denmark | 0.89 |
| 203 | Guinea Ekuatorial | 65.6 |
| 204 | Afganistan | 68.77 |
| 205 | Somalia | 85.27 |
Puncak tabel diisi Uni Emirat Arab (0,0039%), Azerbaijan (0,0266%), dan Uruguay (0,0355%), disusul Korea Selatan (0,0557%) serta Jepang (0,0684%). Di dasar tabel ada Somalia (85,2728%), Afganistan (68,7716%), dan Guinea Ekuatorial (65,5965%); Indonesia dengan 0,8768% jauh lebih dekat ke kelompok atas.
Grafik memperlihatkan lonjakan hingga 7,7001% pada 2018, lalu penurunan drastis ke 1,7222% pada 2019 dan terus menurun ke 0,7271% pada 2023. Setelah naik sedikit ke 1,071% pada 2024, angkanya kembali turun ke 0,8768% pada 2025.
Angka partisipasi pendidikan tinggi
| Peringkat | Negara / wilayah | % |
|---|---|---|
| 1 | Yunani | 165.11 |
| 2 | Makau | 141.86 |
| 3 | Siprus | 120.88 |
| 4 | Hong Kong | 120.09 |
| 5 | Korea Selatan | 111.85 |
| 91 | Mauritius | 45.78 |
| 92 | Bosnia dan Herzegovina | 45.5 |
| 93 | Indonesia | 44.88 |
| 94 | Palestina | 44.49 |
| 95 | Suriah | 43.76 |
| 201 | Guinea Ekuatorial | 1.84 |
| 202 | Polinesia Prancis | 1.46 |
| 203 | Haiti | 1.05 |
Puncak daftar diisi Yunani 165,1134%, Makau 141,8648%, dan Korea Selatan 111,8533%, sedangkan dasarnya Haiti 1,0514% dan Polinesia Prancis 1,4568%. Indonesia berada di paruh tengah tabel.
Garis tren naik cukup konsisten dari 29,0425% pada 2012 menjadi 44,8813% pada 2023. Grafik batang memperlihatkan rentang antarnegara yang sangat lebar, dari 165,1134% sampai 1,0514%.
Angka partisipasi pendidikan menengah
| Peringkat | Negara / wilayah | % |
|---|---|---|
| 1 | Monako | 158.55 |
| 2 | Belgia | 142.96 |
| 3 | Finlandia | 142.4 |
| 4 | Belanda | 137.51 |
| 5 | Saint Kitts dan Nevis | 137.51 |
| 74 | Libya | 97.61 |
| 75 | AS | 97.47 |
| 76 | Indonesia | 97.17 |
| 77 | Mongolia | 96.82 |
| 78 | Tanjung Verde | 96.43 |
| 206 | Haiti | 17.17 |
| 207 | Republik Afrika Tengah | 15.81 |
| 208 | Somalia | 3.35 |
Tabel dipimpin Monako 158,5466%, Belgia 142,9603%, dan Finlandia 142,3952%, sementara ujung bawahnya Somalia 3,3479% dan Republik Afrika Tengah 15,8074%. Indonesia berada di atas Tiongkok 92,2603% namun di bawah Jepang 101,5371%.
Garis tren naik dari 83,556% pada 2014 ke 98,8364% pada 2024 lalu 97,1702% pada 2025. Batang menunjukkan sebagian negara melewati 100% karena ini angka partisipasi kasar.
Rasio murid-guru (pendidikan dasar)
| Peringkat | Negara / wilayah | murid per guru |
|---|---|---|
| 1 | San Marino | 6.93 |
| 2 | Liechtenstein | 7.8 |
| 3 | Luksemburg | 8.3 |
| 4 | Norwegia | 8.59 |
| 5 | Kuwait | 8.88 |
| 87 | Irak | 16.96 |
| 88 | Turki | 16.98 |
| 89 | Indonesia | 17.03 |
| 90 | Kazakhstan | 17.21 |
| 91 | Argentina | 17.23 |
| 204 | Malawi | 58.68 |
| 205 | Rwanda | 59.51 |
| 206 | Republik Afrika Tengah | 83.41 |
Kelas terkecil tercatat di San Marino 6,9306 dan Liechtenstein 7,8016, sedangkan terpadat di Republik Afrika Tengah 83,412 dan Rwanda 59,5086. Indonesia berada di paruh atas tabel, dekat dengan Tiongkok 16,4267.
Garis tren bergerak dari 19,0117 pada 2010 ke 17,0349 pada 2018 dan berhenti di sana, sehingga bukan gambaran tahun terkini. Batang memperlihatkan selisih lebih dari sepuluh kali lipat antara ujung teratas dan terbawah.